Sastra tidak pernah lahir dari menara. Ia tumbuh dari tanah, dari dapur yang berasap sebelum matahari terbit, dari rak toko yang lapang, dari lapangan bola yang hilang. Dua puisi dan satu cerpen berikut adalah upaya kecil menuliskan apa yang jarang tercatat dalam laporan resmi: suara orang-orang biasa yang menanggung harapan sekaligus kecewa dari program-program yang katanya untuk mereka.
Bait Pertama: Baki
Di baki plastik itu, nasi masih hangat,
sayur bening, sepotong telur, dan doa ibu-ibu dapur
yang bangun pukul tiga demi anak orang lain.
Anak-anak mengantre, piring bersih, perut berbunyi kecil —
di sinilah negara pernah singgah,
menyentuh lidah yang paling jujur di republik ini.
Tapi di kota, jauh dari bau nasi,
angka-angka menguap dari kertas,
titik-titik yang tak pernah ada dihitung sebagai ada,
dan tanda tangan menjadi lebih kenyang daripada mulut.
Aku tak menulis untuk menuduh.
Aku menulis karena pernah melihat
seorang bocah menjilat sisa kuah di sudut bibirnya,
lalu bertanya pelan: “Besok ada lagi, Bu?”
Dan tak ada yang berani menjawabnya.
Bait Kedua: Rak yang Lapang
Mereka bangun toko di bekas lapangan bola,
tempat dulu kami menendang senja sampai magrib memanggil.
Kini berdiri gedung, dicat merah putih,
diresmikan dengan pita dan pidato yang panjang.
Di dalamnya, rak-rak berdiri gagah —
tapi lapang, terlalu lapang,
satu-dua bungkus mi di papan sepanjang tiga meter,
seperti janji yang diucapkan terlalu banyak,
lalu diisi terlalu sedikit.
Dana desa dialihkan, jalan berlubang menunggu,
posyandu menahan napas,
sementara koperasi menunggu pembeli
di desa yang penghuninya tak punya uang untuk membeli.
Kami tidak menolak koperasi.
Kami hanya rindu lapangan,
dan seseorang yang bertanya lebih dulu:
“Sebenarnya, apa yang kalian butuhkan?”
Sebuah Cerpen: Lapangan yang Hilang
Bu Sri selalu bangun pukul tiga pagi. Bukan karena weker — perutnya sendiri yang tahu waktu, terbiasa oleh puluhan tahun menanak nasi untuk orang lain. Sejak dapur pelayanan gizi dibuka di ujung desa, ia punya pekerjaan resmi pertama dalam hidupnya. Ada seragam. Ada absen. Ada gaji yang, meski kecil, datang tiap bulan seperti hujan di musim yang benar.
Ia bangga. Sungguh. Setiap subuh ia mengiris wortel dan buncis, menakar beras, memastikan telur matang sempurna. Ketika truk kecil datang membawa baki-baki menuju sekolah, ia membayangkan wajah anak-anak yang akan makan. Di antara mereka, mungkin ada yang seperti Ijal, anaknya — yang dulu berangkat sekolah hanya dengan segelas teh.
Tapi Bu Sri bukan perempuan bodoh. Ia melihat hal-hal kecil yang tak masuk laporan.
Ia melihat, misalnya, bahwa nota pengiriman menuliskan sepuluh peti ayam, sementara yang turun dari mobil hanya tujuh. Ia melihat pak koordinator, yang dulu naik sepeda ontel, kini datang dengan motor mengilap yang bahkan belum ada pelat nomornya. Ia melihat, suatu pagi, daging yang warnanya sudah tak wajar, dan ketika ia bertanya, seseorang berkata pelan, “Sudah, Bu, masak saja. Jangan banyak tanya.”
Bu Sri memasak. Ia butuh gaji itu. Ijal butuh sepatu baru.
Siang itu, kabar datang lewat pengeras suara masjid, bukan lewat pejabat: belasan anak di sekolah sebelah muntah-muntah, dilarikan ke puskesmas. Bu Sri berdiri di depan kompornya yang masih menyala, tangannya gemetar. Ia tak tahu apakah masakannya yang bersalah, atau dapur yang lain. Tapi malam itu ia tak bisa tidur. Ia terus melihat wajah bocah-bocah yang menjilat kuah di sudut bibir, bertanya “besok ada lagi?”, dan ia merasa telah ikut menjawab dengan cara yang salah.
Di seberang jalan, berdiri gedung koperasi desa yang baru. Merah putih catnya, masih basah baunya. Gedung itu dibangun di atas lapangan bola — lapangan tempat Ijal dan teman-temannya dulu menendang bola plastik sampai magrib. Kepala desa bilang ini kemajuan. Rapat digelar, pita digunting, foto diambil. Uang desa yang biasanya dipakai memperbaiki jalan dan menambal atap posyandu, tahun ini sebagian besar mengalir ke sini.
Ijal tak mengerti soal anggaran. Ia hanya tahu lapangannya hilang.
Sore hari, Bu Sri kadang menemukan anaknya duduk di depan koperasi itu, menendang bola pelan ke temboknya. Duk. Duk. Duk. Bola memantul kembali, seolah tembok itu satu-satunya kawan yang tersisa. Di balik kaca, rak-rak koperasi berdiri hampir kosong: beberapa bungkus mi, sekaleng biskuit, sabun yang berdebu. Tak banyak warga masuk. Bukan karena tak butuh — tapi karena tak punya uang untuk membeli. Di desa ini, yang lapang bukan cuma rak. Yang lapang juga dompet.
“Jal,” panggil Bu Sri suatu senja. “Pulang, Nak. Sudah mau magrib.”
Ijal menghentikan bolanya. Ia menoleh, dan bertanya dengan polos yang justru menusuk, “Bu, kenapa mereka bangun toko di lapangan kita? Kenapa nggak toko dulu yang ditanya, kita butuh apa?”
Bu Sri tak menjawab. Sama seperti tak ada yang menjawab pertanyaan bocah-bocah di sekolah itu. Ia hanya menggandeng tangan anaknya, dan mereka berjalan pulang melewati gedung merah putih yang menyala terang oleh lampu — terang sekali, untuk toko yang nyaris tak berjualan.
Malamnya, sebelum tidur, Ijal berkata lirih, “Besok masak lagi, Bu?”
Dan untuk pertama kalinya, Bu Sri menjawab dengan yakin. “Iya, Nak. Ibu masak lagi. Dan ibu akan lebih banyak bertanya.”
Di luar, bola plastik Ijal tergeletak di halaman, menunggu lapangan yang mungkin tak akan kembali. Tapi di dapur, sebelum pukul tiga, seorang perempuan telah memutuskan sesuatu: bahwa memberi makan anak orang lain tak boleh dibayar dengan diam.
Sastra akar rumput bukan tentang menyalahkan. Ia tentang menolak lupa — merekam wajah, suara, dan pertanyaan orang-orang kecil yang terlalu sering hanya menjadi angka dalam laporan. Selama masih ada bocah yang bertanya "besok ada lagi?", selama masih ada rak yang lapang di desa yang lapar, sastra masih punya pekerjaan.
Belum ada komentar