Merdeka, Katanya
Sajak Delapan Puluh Satu Untuk mereka yang merayakan kemerdekaan di gang yang jalannya berlubang. I. Delapan puluh satu tahun, dan kita masih mengukur merdeka dengan tinggi tiang bendera, bukan tinggi h…
“Mungkin ada orang yang menulis untuk mengatakan kata hatinya, maafkan aku kalau salah, karena aku menulis untuk mendengarkan kata hatiku.” – Pidi Baiq
Catatan harian, cerpen, dan puisi yang ditulis pelan-pelan sejak 2011.
Kisah pendek tentang orang, tempat, dan waktu yang mudah terlewat.
Bait-bait singkat untuk dibaca perlahan, kapan pun kamu sempat.
Sajak Delapan Puluh Satu Untuk mereka yang merayakan kemerdekaan di gang yang jalannya berlubang. I. Delapan puluh satu tahun, dan kita masih mengukur merdeka dengan tinggi tiang bendera, bukan tinggi h…
Untuk mereka yang merayakan kemerdekaan sambil menunggu panggilan kerja yang tak kunjung tiba. Tujuh belas Agustus, langit terang benderang, bendera naik ke puncak, ditonton orang-orang. Aku ikut bert…
Tentang pungutan yang dibungkus gotong royong, data yang sengaja tidak sinkron, dan kenapa pembukuan adalah bentuk kasih sayang paling jujur kepada warga. Ada satu video yang beredar beberapa waktu la…
Catatan tentang harga yang naik, program yang bocor, dan negara yang sibuk mengurus dirinya sendiri. Di pasar, harga tidak pernah berdebat. Ia hanya berubah. Seorang pedagang sayur di Pasar Inpres Muar…
Sastra tidak pernah lahir dari menara. Ia tumbuh dari tanah, dari dapur yang berasap sebelum matahari terbit, dari rak toko yang lapang, dari lapangan bola yang hilang. Dua puisi dan satu cerpen beri…