Delapan puluh satu tahun merdeka di atas kertas,
Merah putih berkibar di tiang yang mulai retak.
Pidato kesejahteraan mengudara bebas tanpa batas,
Sementara perut jelata berbunyi berontak.
Korupsi tak lagi sembunyi di balik meja,
Ugal-ugalan menggilas uang negara tanpa sisa.
Lalu rakyat disuapi akronim penawar dahaga,
MBG dan KDMP turun dari langit bagai mukjizat yang fana.
Harga-harga meroket menembus awan,
Daya beli tersungkur jatuh ke tanah beringas.
Tabungan hanyalah mitos yang perlahan tertawan,
Hidup hari ini bergantung pada utang yang mengganas.
Sirkus pinjol menjerat leher dalam lingkaran setan,
Ditambah judol membuai mimpi yang selalu semu.
Pabrik-pabrik memuntahkan buruh di tengah jalan,
PHK mewabah, lowongan kerja membisu kelabu.
Kemerdekaan ini sebenarnya milik siapa?
Bukan untuk mereka yang hidupnya digadaikan paksa.
Ibu Pertiwi tak sedang merayakan usianya yang menua,
Ia hanya menangisi negerinya yang dijual oleh para penguasa.
Belum ada komentar