Sajak Delapan Puluh Satu
Untuk mereka yang merayakan kemerdekaan di gang yang jalannya berlubang.
I.
Delapan puluh satu tahun, dan kita masih mengukur merdeka dengan tinggi tiang bendera, bukan tinggi harga beras.
Pagi ini upacara. Merah putih naik gagah ke puncak, catnya seolah masih basah — seperti gedung koperasi yang mereka bangun di atas lapangan bola kami.
Dirgahayu, katanya. Panjang umur, katanya. Umur siapa yang panjang, kalau tabungan rakyat cuma seumur jagung?
II.
Di pasar, harga tidak pernah berdebat. Ia hanya berubah — kacang panjang naik dua kali lipat, telur pindah kelas, dan sayur harian pelan-pelan jadi sayur akhir bulan.
Kami tidak lapar karena paceklik. Kami lapar justru di tahun ketika negara mengaku sedang memberi kami makan.
III.
Dulu kami hidup dari gaji. Gaji habis, kami hidup dari tabungan. Tabungan menipis, kami hidup dari utang. Utang menumpuk, kami hidup dari utang yang lain — gali lubang, tutup lubang, sampai seluruh tanah air jadi lubang, dan kami terjun ke dalamnya sambil berteriak: merdeka!
Pinjol dan judol, dua pintu di lorong yang sama, dua-duanya dicat terang, dua-duanya bermuara ke ruang tanpa jendela. Yang satu menjanjikan cair dalam lima menit, yang satu menjanjikan kaya dalam satu ketukan — keduanya berbohong dengan senyum yang sama, lalu menagih dengan wajah yang berbeda.
IV.
Lapangan kerja? Ia hilang bersama lapangan bola, digusur gedung yang diresmikan dengan pita dan pidato. Surat lamaran kami setebal bantal, dibalas sepi setebal makam.
PHK datang seperti musim, tapi tak ada yang mencatatnya di kalender. Bapak pulang membawa map kosong, anak bertanya kapan bisa beli sepatu, dan map itu tak punya jawaban — hanya stempel: "kami akan menghubungi Anda kembali." Mereka tak pernah menghubungi.
V.
Ada baki plastik berisi nasi hangat, niat baik yang sulit ditolak. Tapi di antara dapur dan mulut anak-anak, ada tangan yang singgah lebih dulu — mengatur ompreng, menentukan harga, menyelipkan fee di balik senyum pengabdian.
Dan di kota, jauh dari bau nasi, ada brankas di belakang lemari sebuah kafe, berisi emas berpuluh kilo, ditimbun sekilo demi sekilo oleh orang yang digaji untuk memberantas maling.
Inilah republik kita: bukan negara miskin, tapi negara yang kebocorannya seukuran anggaran negara lain.
VI.
Aku tak menulis untuk menuduh. Aku menulis karena pernah melihat seorang bocah menjilat sisa kuah di sudut bibirnya, lalu bertanya pelan: "Besok ada lagi, Bu?"
Dan tak ada yang menjawab. Tidak menteri. Tidak anggota dewan yang tunjangan rumahnya enam belas kali upah bapaknya. Tidak bendera yang berkibar gagah pagi tadi. Tidak juga aku.
VII.
Maka rayakanlah. Pasang umbul-umbul di gang yang jalannya berlubang. Lomba makan kerupuk di depan warung yang sudah tutup. Panjat pinang demi hadiah yang harganya tak sebanding dengan lecet di betismu. Teriak merdeka sekencang-kencangnya, sampai suaramu serak, sampai kau lupa bahwa kau meneriakkannya sambil menandatangani cicilan yang kesebelas.
Delapan puluh satu tahun. Bendera sudah di puncak. Nasi sudah dingin. Dan bocah itu masih menunggu jawaban, sambil menendang bola plastik ke tembok koperasi yang raknya lapang, sekosong janji yang mereka bacakan tadi pagi lewat pengeras suara.
Duk. Duk. Duk.
Merdeka, katanya.
Kalau tak ada lagi yang mencatat, di situlah kita kalah sepenuhnya. Maka sajak ini pun sebuah catatan — supaya besok, ketika bocah itu bertanya lagi, setidaknya ada yang ingat bahwa ia pernah bertanya.
Belum ada komentar