Untuk mereka yang merayakan kemerdekaan sambil menunggu panggilan kerja yang tak kunjung tiba.
Tujuh belas Agustus, langit terang benderang, bendera naik ke puncak, ditonton orang-orang. Aku ikut bertepuk di tepi jalan raya— seorang tunakarya di tanah yang katanya raya.
Dulu aku punya kerja, punya seragam, punya gaji, kini gerbang pabrik terkunci, satpam menyuruhku pergi. PHK turun bagai musim yang tak pernah diramal, dan kami pulang menunduk, membawa map dan sesal.
Kutulis lagi lamaran, kusebar ke seluruh negeri, dibalas kalimat beku yang bunyinya begini: "Berkasmu kami terima, mohon menunggu nanti"— janji, seperti kampanye, manis tapi tak ditepati.
Di pasar, harga tak berdebat, ia cuma berubah: kacang panjang naik dua kali, seolah tanah bertuah. Sayur harian pelan-pelan jadi sayur akhir bulan, dan aku yang tak berpenghasilan, hanya bisa menelan.
Tabungan tipis kukerok, sesendok saban hari, sampai dasar toples berdenting—kosong, tak berisi. Lalu aku hidup dari utang, gali lubang tutup lubang, hingga seluruh tanah air terasa menganga jadi jurang.
Pinjol dan judol, dua pintu di gang yang sama, dicat terang benderang, tapi di baliknya menganga. Satu menjanjikan cair lima menit—ringan depan, berat belakang, satu menjanjikan kaya sekali klik—setan yang sama, berputar berulang.
Di seberang, mengular anak-anak menanti baki, nasi hangat dan telur, program negeri yang berbudi. Tapi di antara dapur dan mulut, ada tangan menyelinap, mengatur ompreng, memungut fee—sopan, licin, dan gelap.
Mereka bangun koperasi di atas lapangan bola, tempat dulu kami menggiring senja sampai magrib tiba. Gedung merah putih berdiri, pitanya baru digunting, raknya lapang melompong—selapang janji yang menggantung.
Dan di kota, di balik lemari sebuah kafe, mengeram brankas berisi emas—berkilo-kilo, tak terkira. Ditimbun tangan yang justru bersumpah memburu maling, di negeri yang, katanya, sedang berhemat dan berhitung keliling.
Sebab kita bukan negara miskin— kita negara yang kebocorannya seukuran anggaran negara lain.
Di atas sana, tunjangan mengalir bagai air bah, rumah dinas, mobil dinas, semua serba mewah. Di bawah sini, upah sebulan tak sampai tiga minggu, dan aku—tunakarya—hanya punya lapar yang tak menentu.
Di ujung jalan, seorang bocah menjilat kuah di bibirnya, lalu bertanya pada ibunya, pelan dan tak berdosa: "Besok masih ada nasi, Bu? Besok Ayah kerja?" Dan tak ada yang menjawab. Bendera pun diam saja.
Maka rayakanlah: panjat pinang, tarik tambang, lomba karung, di gang yang jalannya bolong, di negeri yang utangnya menggunung. Teriak merdeka sekuat dada, sampai serak suaranya, walau kau meneriakkannya sambil menanti panggilan kerja.
Delapan puluh satu tahun. Bendera sudah di angkasa. Nasi sudah dingin. Dan aku masih belum bekerja. Bocah itu masih bertanya, menendang bola ke tembok tua—
Duk. Duk. Duk.
Merdeka, katanya.
Belum ada komentar