Tunakarya di Tanah Raya
Untuk rakyat yang merayakan kemerdekaan di antara harga yang menjulang, pajak yang mengintai, dan janji yang tak pernah pulang.
Merdeka, katanya. Tapi tanyalah harga cabai pagi tadi—
ia memanjat lebih tinggi dari tiang bendera yang berdiri.
Di tanah yang gembur, kami dijajah antrean dan angka;
delapan puluh satu tahun, yang merdeka rupanya cuma kata.
Bensin naik lagi, diam-diam, tanpa permisi,
solar truk sayur ikut terbakar, membebani semua isi.
Di pompa ia hanya angka kecil yang berganti,
tapi ia menempel di beras dan cabai, merembes sampai ke nasi.
Di pasar, harga tak berdebat—ia hanya berubah;
kacang panjang naik dua kali, telur naik ke kelas mewah.
Sayur harian pelan menjelma jadi sayur akhir bulan,
kami menawar sekuat suara, pulang dengan keranjang setengah dan hati tertahan.
Dulu kami belanja tanpa lama menimbang,
kini tiap rupiah dihitung, tiap ingin ditahan dan dibuang.
Warung sepi, etalase penuh tapi tak ada yang datang,
daya beli anjlok—kelas menengah pelan-pelan turun jenjang.
Gaji menipis lebih cepat dari umur bulan,
tabungan dikeruk sesendok demi sesendok sampai kehabisan.
Habis simpanan, kami hidup dari utang yang beranak-pinak,
gali lubang tutup lubang, sampai tanah air penuh lubang dan retak.
Pinjol dan judol, dua pintu di gang yang sama,
dicat terang benderang, tapi di baliknya menganga.
Satu menjanjikan cair lima menit—ringan depan, mencekik belakang,
satu menjanjikan kaya sekali klik—setan yang sama, berputar berulang.
Pabrik-pabrik mengunci gerbang, memulangkan pekerjanya,
PHK berjatuhan bagai daun, tak tercatat di mana-mana.
Ijazah menguning dalam map, lamaran dibalas sunyi,
tanah raya ini penuh tunakarya, menunggu rezeki yang tak kunjung menghampiri.
Mau urus surat pindah? Bayar pungli dulu, baru dilayani;
mau buka warung kecil? Kena palak berbaju “iuran resmi”.
Di meja pejabat, korupsi belajar merangkak sebelum ia berlari—
stempel kecil di tangan kecil, cukup untuk menjual nurani.
Mereka kumpulkan kami, katanya musyawarah untuk mufakat,
tapi yang dibagi rata cuma beban, yang dibagi diam-diam cuma nikmat.
Di balik meja rapat berhias kata “demi bersama, demi rakyat”,
lahir keputusan yang sejatinya bernama permufakatan jahat.
Petugas sensus mengetuk pintu, mendata asal jadi saja,
angka dikarang di teras rumah, yang penting laporan rampung dan tiba.
Yang miskin luput dihitung, yang butuh tak masuk data,
lalu kita heran bantuan salah alamat—cermin negeri memang retak sejak semula.
Tapi giliran menagih, negara paling rajin dan sigap:
warung dipajaki, pulsa dipajaki, sembako pun kena cakap.
Segala yang bergerak dikutip, segala yang diam ditagih juga—
di negeri yang katanya milik rakyat, nyatanya milik pejabat belaka.
Inilah republik salah urus: data ngawur, pungli subur, pajak makmur,
sementara para pejabatnya sibuk mengurus diri sendiri sampai gembur.
Di sekolah, mengular anak-anak menanti baki,
nasi hangat dan telur—program mulia, katanya, penuh budi.
Tapi di antara dapur dan mulut, ada tangan menyelinap,
mengatur ompreng, memungut fee—sopan, licin, dan gelap.
Mereka dirikan koperasi di atas lapangan bola,
tempat dulu bocah menggiring senja sampai magrib tiba.
Gedung merah putih berdiri, pitanya baru digunting,
raknya lapang melompong—selapang janji yang menggantung.
Jauh di kota, di balik lemari sebuah kafe yang sunyi,
mengeram brankas penuh emas—berkilo-kilo, tak terperi.
Ditimbun tangan yang digaji justru untuk memburu maling,
sementara di rumah kami, listrik padam bergiliran sepanjang keliling.
Sebab kita bukan negara miskin—
kita negara yang kebocorannya seukuran anggaran negara lain.
Di atas sana, tunjangan mengalir deras bagai air bah,
rumah dinas, mobil dinas, fasilitas serba mewah.
Di bawah sini, upah sebulan tak bertahan sampai tanggal tua,
dan yang paling rajin dievaluasi selalu subsidi orang papa.
Di ujung gang, seorang bocah menjilat kuah di bibirnya,
lalu bertanya pada ibunya, pelan dan tanpa dosa:
“Besok masih ada nasi, Bu? Besok Bapak dapat kerja?”
Dan tak ada yang menjawab. Bahkan merah putih pun bungkam saja.
Maka rayakanlah: panjat pinang, tarik tambang, balap karung,
di gang yang jalannya bolong, di negeri yang utangnya menggunung.
Teriak “Merdeka!” sekuat dada, sampai serak semua suara,
walau kita meneriakkannya sambil menahan lapar dan mencicil derita.
Delapan puluh satu tahun. Bendera berkibar di angkasa.
Nasi sudah dingin. Dan janji-janji masih menganga di udara.
Bocah itu masih bertanya, menendang bola ke tembok tua—
Duk. Duk. Duk.
Merdeka, katanya.

Belum ada komentar