Di penghujung senja 07 Agustus 2013, Masyarakat Indonesia dibingungkan dengan kepastian kapan jatuhnya tanggal 1 Syawal 1434 Hijriah yang menandai berakhirnya bulan Ramadhan. Kegelisahan dan keresahan masyarakat nampaknya menemukan titik terang ketika akan di adakannya sidang isbat pada pukul 18.40 WIB yang digelar oleh Kementerian Agama RI yang dihadiri sekitar 35 ormas Islam yang tersebar di seluruh Indonesia serta disiarkan oleh beberapa stasiun televisi swasta nasional. Setelah dilakukan pemantauan hilal dari berbagai titik yang tersebar di penjuru Indonesia, Pemerintah akhirnya menetapkan hasil keputusan sidang isbat bahwa 1 Syawal 1434 Hijriah jatuh pada hari Rabu, 08 Agustus 2013 dan dari sejumlah ormas islam yang hadir tidak berbeda pendapat terkait penetapan 1 syawal 1434 Hijriah. Dengan demikian hari raya idul fitri dilaksanakan pada esok hari setelah keputusan ini ditetapkan.
Di berbagai penjuru negeri pun mulai mengumandangkan takbir menandai berakhirnya bulan suci ramadhan. Begitupun yang terjadi di kota surabaya gegap gempita kumandang takbir menggelora di setiap sudut dan jalanan kota Surabaya. Mulai takbir keiling dengan berjalan kaki maupun takbir keliling menggunakan mobil bak terbuka atau biasa kita kenal dengan pick up. Berbeda dengan apa yang dialami di salah satu daerah di Indonesia tepatnya di jakarta. Pelarangan takbir keliling atau konvoi di malam takbiran dihimbau langsung oleh sang gubernur Joko Widodo atau yang lebih kita kenal dengan Jokowi. Gubernur DKI Jakarta ini menghimbau warganya agar merayakan malam takbir di masjid - masjid atau di area sekitar tempat ibadah. Mungkin ini adalah pola - pola baru untuk membiasakan tindakan - tindakan sekularisasi yang ada di negeri ini. Bagaimana tidak tradisi yang baik malah dilarang sedangkan tradisi mengundang artis luar negeri dan tahun baru yang benar - benar merupakan tindakan hura - hura tidak digubris sama sekali. Apakah ada yang salah dengan bangsa ini ?
![]() |
google.co.id |
Itu cerita di jakarta beda dengan di surabaya, meski kota surabaya agak sepi dari biasanya dikarenakan kebanyakan penduduknya pulang kampung alias mudik, tetapi tidak menghilangkan pesona malam takbiran di kota Surabya. Di daerah surabaya barat kebanyakan santri dari TPA maupun Remas menggelar takbir keliling memutari daerah sekitar desanya. Begitu juga yang terjadi di desa Bringin, kelurahan Bringin, kecamatan sambikerep, kota surabaya. Tradisi takbir keliling merupakan kegiatan yang rutin dilakukan tiap tahunnya di desa ini. Kebanyakan yang mengikuti takbir keliling ini adalah santri TPA dan Remas Sabilul Muttaqien. Setelah mengelilingi seluruh tempat di desa Bringin, Takbiran dilanjutkan di Masjid Sabilul Muttaqien hingga larut malam bahkan menjelang pagi. Di sela - sela takbiran dibarengi dengan "ritual" membakar petasan atau merconan, bunyi mercon yang keras menemani pergantian malam di ujung ramadhan.
![]() |
dok. pribadi |
Takbiran di penghujung ramadhan pun dilakukan hingga larut diiringi tabuhan bedug dan rebana, ditemani jajanan dan buah - buahan serta tak lupa kopi dari tasyakuran yang dilakukan setelah shalat maghrib sebagai rasa syukur menyambut hari raya idul fiitri. Semoga dapat bertemu dengan ramadhan dan malam takbiran di tahun depan. :)
allahu akbar
allahu akbar
allahu akbar
laailahaillallahu allahu akbar
allahu akbar walillah ilham.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 Hijriah
“Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum."
(semoga Allah menerima amalan saya dan kamu, amalan puasa saya dan kamu)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar